Lestarikan Hutan Bakau
Artikel berjudul
”Lestarikan Hutan Bakau” ini menceritakan tentang keindahan Cagar Alam Hutan
Bakau Pantai Timur Jambi. Harmonisasi yang tercipta antara alam dan satwa-satwa
liar yang tergolong satwa langka di sana, bagaikan sebuah dunia lain yang jauh
berbeda dengan suasana perkotaan yang padat dan semrawut. Hal ini di rasakan
sendiri oleh sang penulis, Irma Tambunan yang berkesempatan menjelajah cagar
alam ini bersama sembilan orang rekannya, yang sebagian besar personel Balai
Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Artikel ini menambah
pengetahuan pembacanya, karena isinya mengandung banyak ilmu pengetahuan
tentang alam, tumbuh-tumbuhan serta hewan-hewan langka yang hidup di hutan
bakau dan harus dilestarikan. Perjalanan menyusuri cagar alam seluas 4,126
hektar ini diwarnai dengan bermacam-macam pengalaman unik yang berharga. Mulai
dari melewati sekumpulan biawak (Varanus salvator) yang tengah merapat ke dahan
pohon, ular yang melingkar di atas pohon dekat sekali dengan kepala para
rombongan, kelompok kera ekor panjang yang sedang bermain-main di dahan pohon,
hingga berbagai jenis burung laut, seperti kawanan bangau putih susu (Mycteria
cinerea), bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus), serta elang laut
(Haliaeetus leucogaster) yang berstatus dilindungi. Warga yang hidup di sekitar
hutan bakau tidak pernah memburu satwa-satwa langkanya.
Analisis :
Dalam artikel ini
juga membahas bermacam-macam fungsi hutan bakau, baik bagi penduduk setempat
maupun bagi keutuhan pantai dan kehidupan spesies akuatik. Pembaca jadi sadar
bahwa fungsi hutan bakau adalah untuk melindungi masyarakat dari tsunami dan
intrusi air laut. Hutan bakau juga bisa menjadi perisai, menetralisir air asin,
menjaga garis pantai tetap stabil, serta mencegah erosi pantai. Selain itu,
pada satu pohon bakau saja terdapat lima sampai enam sarang lebah yang madunya
bisa dipanen warga sekitar, akibatnya dalam satu bulan warga bisa memanen
hampir dua ton madu. Dengan demikian, sangatlah penting untuk menjaga dan
melestarikan hutan bakau. Kegiatan penebangan hutan bakau untuk tempat tambak
ikan yang pernah marak terjadi pada tahun 2005 sempat mengancam kelestarian dan
keseimbangan hutan.
Dilihat dari judulnya,
”Lestarikan Hutan Bakau”, seolah-olah menghimbau pembaca untuk ikut
melestarikan hutan bakau, karena banyak sekali kegunaannya. Para pembaca yang
peduli terhadap lingkungan ketika melihat judul ini akan tertarik untuk
mengetahui dan menambah ilmu tentang pelestarian hutan bakau. Artikel ini
menceritakan fungsi-fungsi daripada hutan bakau dengan sangat detail, demikian
juga dengan manfaat-manfaatnya bagi penduduk sekitar hutan bakau. Namun tidak
disebutkan bahwa hutan bakau juga penting dilestarikan sebagai salah satu
paru-paru dunia demi mengurangi pemanasan global yang terjadi sekarang. Selain
itu seharusnya gaya penulisannya lebih ditekankan pada persuasif, sehingga
masyarakat lebih terhimbau lagi untuk ikut melestarikan hutan bakau, sesuai
dengan judul artikelnya. Yang terjadi pada artikel ini adalah digunakannya
paragraf deskriptif untuk menggambarkan keadaan hutan bakau, dan hanya sedikit
kalimat persuasif yang kurang kuat dalam paragraf penutup.
Solusi yang ditawarkan
dalam artikel ini sangat sedikit, yaitu kelestarian hutan sangat bergantung
pada masyarakat sekitarnya. Akan lebih baik lagi apabila ditambahkan solusi
yang lebih efektif dan melibatkan semua orang, termasuk para pembaca juga supaya
turut ambil bagian melestarikan hutan bakau, baik yang di Jambi maupun hutan
bakau dimana pun berada. Juga tidak disertakan nomor kontak maupun alamat yang
bisa dihubungi sehingga pembaca tidak bisa mengetahui lebih lanjut cara
melestarikan hutan bakau. Sedangkan informasi dari narasumber Aziz Sembiring,
seorang petugas BKSDA dirasa sudah cukup lengkap dan jelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar