Rabu, 07 Juni 2017

Perusakan Lingkungan Akibat Perkebunan Industri di Riau



A.    Latar Belakang
Lingkungan Hidup di Indonesia menyangkut tanah, air, dan udara dalam wilayah negara Republik Indonesia. Semua media lingkungan hidup tersebut merupakan wadah tempat kita tinggal, hidup serta bernafas. Media lingkungan hidup yang sehat, akan melahirkan generasi manusia Indonesia saat ini serta generasi akan datang yang sehat dan dinamis.
Pasal 1 (17) Undang undang No 32 Tahun 2009 tentang pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup di katakan Kerusakan lingkungan hidup adalah perubahan langsung dan/atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup
Pembangunan industri, eksploitasi hutan serta sibuk dan padatnya arus lalu lintas akibat pembangunan yang terus berkembang, memberikan dampak samping. Dampak samping tersebut berakibat pada tanah yang kita tinggali, air yang kita gunakan untuk kebutuhan hidup maupun udara yang kita hirup. Apabila tanah, air dan udara tersebut pada akhirnya tidak dapat lagi menyediakan suatu iklim atau keadaan yang layak untuk kita gunakan, maka pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup telah terjadi.
Kerusakan lingkungan, khususnya di Indonesia, telah terjadi pada berbagai tempat dan berbagai tipe ekosistem. Misalnya, pada ekosistem pertanian/perkebunan, pesisir dan lautan. Ancaman kepunahan satwa liar juga telah terjadi pada pengelolaan lahan perkebunan kelapa sawit pada lahan hutan.
Secara umum, adanya gangguan hutan di mana-mana, yang paling merasakan akibatnya secara langsung adalah penduduk yang bermukim di kawasan atau sekitar kawasan hutan. Rusak atau hilangnya hutan, bukan saja dapat mengakibatkan gangguan lingkungan hayati, tapi juga secara langsung dapat mengganggu kehidupan sosial ekonomi dan budaya Masyarakat peDesaan hutan. Mereka yang tadinya mendapatkan bahan makanan dari jenis-jenis tumbuhan atau satwa liar dengan secara bebas di hutan, akan kehilangan sumber kehidupannya.
Perkembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia mengalami mengingkatan yang sangat signifikan. Hal ini disebabkan tingginya permintaan atas Crude Palm Oil (CPO) sebagai sumber minyak nabati dan penyediaan untuk biofuel. Pengembangan perkebunan kelapa sawit memiliki dampak positif dan dampak negatif. Dampak ekologi perkebunan kelapa sawit adalah meningkatkan level CO2 (karbon diokasida) di atmoster, hilangnya keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan hujan tropis, serta plsama nutfah, hilangnya sejumlah sumber air, sehingga memicu kekeringan, peningkatan suhu, dan gas rumah kaca yang mendorong terjadinya bencana alam, berkurangnya kawasan resapan air, sehingga pada musim hujan akan mengakibatkan banjir karena lahan tidak mempunyai kemampuan menyerap dan menahan air, kehancuran habitat flora dan fauna yang mengakibatkan konflik antar satwa, maupun konflik satwa dengan manusia. Akibat habitat yang telah rusak, hewan tidak lagi memiliki tempat yang cukup untuk hidup dan berkembang biak.






















Pembahasan

A.    Dampak Pembangunan perkebunan Kelapa Sawit Terhadap Keragaman Hayati
*Dinyatakan Prof soekartawi
Kelapa sawit adalah komoditas primadona Indonesia sekarang ini. Ini dibuktikan dengan besarnya kontribusi kelapa sawit terhadap ekspor, produk domestik bruto (PDB), peningkatan pendapatan pekebun, penyerapan tenaga kerja. Produksi sawit Indonesia mencapai 17,4 juta ton dalam kawasan 6,7 juta hektar, dan ekspornya mencapai 11 juta ton CPO (crude palm oil) senilai US$ 6,2 milyar, menjadikan Indonesia sebagai produsen terbesar sawit di dunia. Namun demikian pembangunan perkebunan kelapa sawit juga berdampak negatif kalau dilakukan secara sembarangan. Dampak ini dapat merusak lingkungan, keragaman hayati, dan bahkan merusak budaya masyarakat setempat.
B.     Dampak Ekologi dan Lingkungan Akibat Perkebunan Sawit Skala Besar
Pertumbuhan sub-sektor kelapa sawit telah menghasilkan angka-angka pertumbuhan ekonomi yang sering digunakan pemerintah bagi kepentingannya untuk mendatangkan investor ke Indonesia. Namun pengembangan areal perkebunan kelapa sawit ternyata menyebabkan meningkatnya ancaman terhadap keberadaan hutan Indonesia karena pengembangan areal perkebunan kelapa sawit utamanya dibangun pada areal hutan konversi. Akibat deforetasi tersebut bisa dipastikan Indonesia mendapat ancaman hilangnya keanekaragaman hayati dari ekosistem hutan hujan tropis. Juga menyebabkan hilangnya budaya masyarakat di sekitar hutan.
Dampak negatif yang terungkap dari aktivitas perkebunan kelapa sawit diantaranyai:
1.      Persoalan tata ruang, dimana monokultur, homogenitas dan overloads konversi. Hilangnya keaneka ragaman hayati ini akan memicu kerentanan kondisi alam berupa menurunnya kualitas lahan disertai  erosi, hama dan penyakit.
2.      Pembukaan lahan sering kali dilakukan dengan cara tebang habis dan land clearing dengan cara pembakaran demi efesiensi biaya dan waktu.
3.      Kerakusan unsur hara dan air tanaman monokultur seperti sawit, dimana dalam satu hari satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter (hasil peneliti lingkungan dari Universitas Riau) T. Ariful Amri MSc Pekanbaru/ Riau Online).   Di samping itu pertumbuhan kelapa sawit mesti dirangsang oleh berbagai macam zat fertilizer sejenis pestisida dan bahan kimia lainnya.
F.     Dampak Positif dan Negatif  Pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit

Pengembangan perkebunan kelapa sawit memiliki dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif yang ditimbulkan antara lain adalah meningkatkan pendapatan masyarakat, meningkatkan penerimaan devisa negara, memperluas lapangan pekerjaan, meningkatkan  produktivitas, dan daya saing, serta memenuhi kebutuhan konsumsi dan bahan baku industri dalam negeri.
Selain dampak positif ternyata juga memberikan dampak negatif. Secara ekologis sistem monokultur pada perkebunan kelapa sawit telah merubah ekosistem hutan, hilangnya keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan hujan tropis, serta plsama nutfah, sejumlah spesies tumbuhan dan hewan. Selain itu juga mengakibatkan hilangnya sejumlah sumber air, sehingga memicu kekeringan, peningkatan suhu, dan gas rumah kaca yang mendorong terjadinya bencana alam. Secara sosial juga sering menimbulkan terjadinya konflik antara perusahaan dengan masyarakat sekitar baik yang disebabkan oleh konflik kepemilikan lahan atau karena limbah yang dihasilkan oleh industri kelapa sawit.
G.    Pencemaran Limbah Industri Kelapa Sawit dan Tata Cara pengelolaanya
Limbah adalah kotoran atau buangan yang merupakan komponen penyebab pencemaran yang terdiri dari zat atau bahan yang tidak mempunyai kegunaan lagi bagi masyarakat (Agustina,dkk, 2009). Dalam pengelolaan industri kelapa sawit juga dihasilkan limbah baik yang dihasilkan oleh perkebunan kelapa sawit maupun yang dihasilkan oleh industri pengolahan kelapa sawit.Untuk menghindari masalah lingkungan yang diakibatkan oleh limbah industri kelapa sawit,maka diperlukan konsep pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini didukung oleh sikap untukmenciptakan produk yang harus berorientasi lingkungan dan harus dibuat dengan proses yangramah lingkungan (green consumerism) dan menempatkan lingkungan sebagai non tariff barrier.
H.    Masalah Kelapa Sawit Indonesia : Lingkungan, ketahanan pangan
Berbagai penelitian dan kajian, baik dari luar maupun dalam negeri, berbicara mengenai perkebunan kelapa sawit. Banyak pendapat kontra yang beredar dengan mengedepankan isu lingkungan dan kesehatan. Namun pendapat dan pembelaan yang pro  -terutama dari pelaku perkebunan sawit- tidak kalah serunya.
1.      Kerusakan Lingkungan
Budidaya tanaman kelapa sawit menerapkan sistem monokultur yang mensyaratkan pembersihan awal pada lahan yang akan digunakan (land clearing). Secara ekologis, memang pola monokultur lebih banyak merugikan karena penganak-emasan tanaman tersebut akan berdampak pada penghilangan (atau pengurangan tanaman lain).
2.      Ancaman Ketahanan Pangan
Jika lahan yang akan digunakan bukan hutan dan merupakan lahan produktif pertanian tanaman lain terlebih tanaman pangan maka konversi lahan ini pasti akan berdampak pada ketahanan pangan. Pola perubahan lahan seperti ini sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi yang menunjukkan bahwa komoditas kelapa sawit merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomis yang cukup menjanjikan karena tren konsumsi yang terus meningkat pada pasar internasional.

 KESIMPULAN

Pembangunan perkebunan kelapa sawit juga berdampak negatif kalau dilakukan secara sembarangan. Dampak ini dapat merusak lingkungan, keragaman hayati, dan bahkan merusak budaya masyarakat setempat. Pembangunan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan akan melibatkan pemerintah, investor, masyarakat, yang masing-masing mempunyai kepentingan yang berbeda. Oleh karena itu, perlu ada kemitraan antara ketiga pelaku (stakeholders) bisnis kelapa sawit tersebut.
Pengembangan perkebunan kelapa sawit memiliki dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif yang ditimbulkan antara lain adalah meningkatkan pendapatan masyarakat, meningkatkan penerimaan devisa negara, memperluas lapangan pekerjaan, meningkatkan  produktivitas, dan daya saing, serta memenuhi kebutuhan konsumsi dan bahan baku industri dalam negeri.
Selain dampak positif ternyata juga memberikan dampak negatif. Secara ekologis sistem monokultur pada perkebunan kelapa sawit telah merubah ekosistem hutan, hilangnya keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan hujan tropis, serta plsama nutfah, sejumlah spesies tumbuhan dan hewan.

B.     SARAN
Dalam pembahasan materi di atas mengenai Dampak Pembangunan perkebunan kelapa sawit terhadap keragaman hayati masih banyak kekurangan, baik di segi penulisan ataupun di dari penyusunan kalimat dan kata-katamya,oleh sebap itu kami selaku penulis minta maaf sebesar - besarnya kepada dosen dan mahasiswa semua, sebagai penyempurna kami mengharap kritik dan saran yang positif dari teman-teman.















DAFTAR PUSTAKA

Zulkifli. 2000. Dampak Perdagangan Bebas terhadap keragaan Industri Kelapa Sawit Indonesia dan Perdagangan Minyak Sawit Dunia. Disertasi Doktor. PPS IPB. Bogor

Tarigan, B dan T. Sipayung. 2011. Perkebunan Kelapa Sawit Dalam Perekonomian dan Lingkungan Hidup Sumatera Utara. IPB Press. Bogor

Suryana, A. 1986. Integrasi Pasar Suatu Analisis pada Pasar Internasional Minyak Nabati. JAE 1: 1-9

Sipayung, T. 2012. Ekonomi Agribisnis Minyak Sawit. IPB Press. Bogor.

Sabiham, S. 2013. Sawit dan Lahan Gambut Dalam Pembangunan Kebun Kelapa Sawit di Indonesia. Himpunan Gambut Indonesia.

Purba, J. H. 2011. Dampak Pajak Ekspor CPO terhadap Industri Minyak Goreng Indonesia. Disertasi Doktor. SPS. IPB. Bogor

--------------., 2003b. Prospek Pembangunan Industri Minyak Goreng di Daerah Riau, dalam Sosiohumaniora, Vol 5 No 1, Maret 2003, hal 68-77. Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran, Bandung.

Suhartiningsih, W., 2003, Membangun Agroindustri Berbasis Kelapa Sawit, dalam Usahawan Indonesia No 02/TH.XXXII Februari 2003, hal 53-55,Lembaga Manajemen FE-UI, Jakarta.

Syahza, A., 2002. Potensi Pembangunan Industri Hilir Kelapa Sawit di Daerah Riau, dalam Usahawan Indonesia, No. 04/TH XXXI April 2002, hal 45-51. Lembaga Manajemen FE UI. Jakarta

Pengelolaan Sampah Dari Truk ke Pembuangan Sampah Sementara




Sampah adalah suatu bahan yang terbuang dari sumber aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaur-ulangan , atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah dimulai dari daerah perumahan yang diawali dari sampah yang diangkut dari rumah-rumah dengan truk ke tempat pembuangan sampah sementara (TPS).  Tempat pembuangan sampah sementara (TPS) menurut UU No 18 Tahun 2008 merupakan tempat sebelum sampah diangkut ke tempat pendaurulangan , pengelolaan, dan atau tempat pengelolaan sampah terpadu, pada TPS hanya sekedar penampungan dan tidak ada tindakan apapun disitu.  Penanganan sampah seperti di atas banyak di lakukan di berbagai darerah di indonesa, kita ambil contoh di daerah depok khususnya kawasan Margonda Raya. Seperti yang kita ketahui kawasan margonda raya adalah kawasan yang sangat ramai, pasalnya kawasan ini merupakan kawasan yang ramai karena banyak nya perguruan tinggi yang membuat akan banyak mahasiswa yang tinggal di daerah sekitar margonda raya. Bertambahnya penduduk di daerah margonda akan membuat berbagai dampak buruk, salah satunya adalah banyak nya sampah yang dihasilkan. Penumpukkan sampah yang terjadi bila tidak ditanggulangi akan sangat mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar,  oleh karena itu di sampah sampah yang dihasilkan dari rumah penduduk dan masyarakat sekitar akan di kumpulkan di tempat pembuangan samah sementara, pengangkutan sampah sampah ini dilakukan setiap satu minggu sekali dari rumah-rumah masyarakat menggunakan truk sampah. Untuk pembuangan sampah di Jalan Margonda Raya gang salak pengumpulan sampah di lakukan di pinggir jalan gang salak. Berikut adalah video tentang lokasi dan keadaan tempat pembuangan sampah sementara yang berada di sekitar Jalan Margonda Raya. 




Sabtu, 29 Oktober 2016

Sikap Remaja di Era Globalisasi

BAB I
PENDAHULUAN
            1.1       Latar belakang
Manusia adalah makhluk yang sangat unik karena manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Sebagaimana yang kita tahu manusia adalah makhluk sosial, dalam menjalankan kehidupan sehari-hari manusia satu dengan manusia yang lainnya pasti akan berinteraksi, baik dalam lingkungan kecil atau lingkungan besar atau dalam kelompok tertentu. Zaman sekarang banyak  individu lupa atau bahkan tidak tahu bagaimana bersikap baik pada saat melakukan interaksi dengan individu lainnya, hal ini sering terjadi pada remaja atau anak-anak yang mulai tumbuh menjadi dewasa muda yang bersikap kurang sopan terhadap orang lain yang lebih muda, setara atau bahkan lebih tua dari remaja itu sendiri. Sikap yang kurang baik inilah yang nanti nya dapat membentuk remaja yang ada pada saat ini menjadi pribadi yang kurang baik dan menjadi pribadi yang tidak perduli terhadap sikap dan perbuatannya terhadap individu lain.
Topik ini diambil karena banyak ditemukan individu yang bersikap kurang ramah dan cenderung bersikap kurang sopan terhadap individu lainnya, Banyak kajian dilakukan untuk merumuskan pengertian  sikap, proses terbentuknya sikap, maupun perubahan. Banyak pula penelitian telah dilakukan terhadap sikap kaitannya dengan efek dan perannya dalam pembentukan karakter dan sistem hubungan antar kelompok. Banyak sosiolog dan psikolog memberi batasan bahwa sikap merupakan kecenderungan individu untuk merespon dengan cara yang khusus terhadap stimulus yang ada dalam lingkungan sosial. Sikap merupakan suatu kecenderungan untuk mendekat atau menghindar, posotitif atau negative terhadap berbagai keadaan sosial, apakah itu institusi, pribadi, situasi, ide, konsep dan sebagainya (Howard dan Kendler, 1974;Gerungan, 2000).
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode studi kepustakaan. Pemilihan metode ini karena penelitian yang dilakukan ditujukan untuk mengidentifikasi masalah sikap sosial dengan mengacu pada literatur-literatur, artikel-artikel, buku referensi serta hasil penelitian sebelumnya yang sejenis yang berguna untk mendapatkan landasan teori mengenai masalah yang akan diteliti ( Sarwono: 2006)
Permasalah tentang sikap di lingkungan remaja ini akan berdampak sangat besar jika tidak segera ditangani, hal ini dapat membentuk remaja yang tidak acuh pada lingkungan sekitarnya, bersikap sebagaimana yang mereka inginkan, dapat melakukan hal apa saja yang mereka mau, hilangnya kesadaran untuk saling menghormati sesama manusia.
Metode yang digunakan adalah Metode pendekatan terhadap individu dan memberikan Bimbingan dan Penyuluhan (Guidance and Counseling) terhadap individu terebut.

1.2              Perumusan masalah
1.      Apa pengertian dari sikap ?
2.      Bagaimana Individu khususnya remaja bersikap terhadap individu lain?
3.      Apa saja dampak dari sikap remaja saat ini?
4.      Bagaimana cara mengatasi masalah individu yang bersikap kurang baik?

1.3              Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penelitian sikap remaja di era globalisasi ini adalah untuk mengetahui hal-hal atau perlakuan yang dilakukan oleh remaja dalam berinteraksi dengan orang yang berada disekitarnya. Berikut adalah penjabaran dari tujuan masalah pada penelitian sikap remaja di era globalisasi
a.       Mengetahui pengertian dari sikap
b.      Mengetahui bagaimana individu khususya remaja saat bersikap terhadap individu lain
c.       Mengetahui dampak dari sikap remaja saat ini
d.      Mengetahui cara mengatasi masalah individu yang bersikap kurang baik

1.4              Batasan masalah
Pembatasan masalah merupakan batasan–batasan yang dimaksudkan untuk membatasi topik permasalahan agar tidak menyimpang dari pokok bahasan. Btasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut
a.       Penelitian hanya dilakukan pada remaja dengan umur 13 sampai 16 tahun
b.      Penelitian hanya  dilakukan pada 30 orang remaja
c.       Penelitian yang dilakukan hanya pada sikap remaja saat berinteraksi terhadap orang lain
d.      Penelitian yang dilakukan hanya dengan mengamati sikap remaja pada sat berinteraksi dengan orang lain